cerpen

kebaikan yang tulus membawa kebahagiaan
aku adalah seorang yang menyukai dinginnya nuansa sebelum dan sesudah hujan. Namun, aku tak menyukai ketika aku berada di bawah hujan, karena ketika huujan deras dan aku benar dibawahnya, aku akan merasa amat dingin kuyup belum lagi ketika aku berkendara sepulang kerja badanku akan terasa sakit ketika aku berada dibawah hujan. Itulah aku Ayumi Hanaro Kawa.pekerjaan ku adalah tukang parkir.
Setiap hari aku menata dan menjaga kendaraan-kendaraan beroda demi mencari sesuap nasi. Aku pernah merasa bosan dengan pekerjaanku. Sewtiap hari aku menata dan menjaga transportasi itu akan, tetapi terkadang upah yang kudapatkan hanyalah seberapa dan itu tidak cukup untuk menghidupiku dan adikku. Orang tua kami telah tiada menghadap sang kuasa. KIni tinggallah kami berdua yang tinggal disebuah rumah kecil, kala hujan airnya pun masuk.
Aku pernah dibuat kesal, seorang bapak-bapak kaya tidak mau membayar sepeser pun upah dari parkiran. Padahal jika dilihat dari segi ekonomi bapak itu sangat mampu.
“dasar lelaki yang tak sebanding dengan ekonominya! Pikirku.
Lagi-lagi aku dibuat kesal oleh kejadi kedua. Seorang pejabat yang tak seronoh dengan perbuatannya. Setelah selesai mengeluarkan mobil termahal di dunia MC P1 yang harganya berjuta-juta dan tidak semua orang bisa membelinya...
“permisi pak...”kataku halus dengan tangn menengadah makna meminta upah.
“iya, maaf mas belum punya” jawabnya berbohong, jelas bohong bukan?, diliha dari penampilannya saja sudah tampak kebohongan besar, jubah layaknya pejabat negara, tas koper yang layaknya detektif dan belum lagi Mc P1 nya. Dengana begitupun bapak itu telah menampakkan tingkat ekonominya yang jelas berada di kalangan atas.
Aku kesal sekali dibuatnya. Sekali lahgi aku ngotot supaya bapak itu membayar biaya parkir. Dengan raut wajah congaknya, bapak itu memberikan upah parkir dengan kasar.
“dasar tukang parkir yang tak tahu diri, sudah dibilangin belum punya masih saja minta. Ya sudah, ini!” seru bapak itu ketikan membayar.  Uang ricikan berhamburan, ku hitung lagi uang itu, ternyata upah yang bapak itu berikan belum seberapa mungkin, setengah dari upah motor pun belum ada. Apalagi, mobil dengan jenis seperti itu harusnya tarif yang diberikan melampaui jeins standard mobil biasa. Namun, ya sudahlah... ku tak ingin kejadiannya lebih dalam.
Matahari telah beranjak kebarat aku sudah ingin pulang, jika hujan deras tidak mengguyur jalan yang membawaku pulang kerumah. Terpaksa aku harus berteduh di halte bus menunggu hujan reda atau ada seorang yang bersedia menawariku tumpangan.
Hujan telah reda aku bergegas pulang kerumah. Namun, ketika di jalanan aku menemukan nenek yang hendak menyebrang. Aku ingin sekali membantu nenek itu. Setiap aku melihat seseorang menyebrang aku selalu ingin membantunya. Aku selalu teringat kecelakaan yang menyebabkan orangtuaku meninggal, saat aku dan adikku masih kecil. Keluargaku ingin bertamasya namun, saat sampai di suatu jalanan ada seseorang nenek yang menyebrang sembarangan membuatku ayahku tidak bisa mengendalikan mobilnya dengan baik. Mobil ayah terbanting menabrak pohonan besar. Aku dan adikku berhasil terselamatkan, tapi tidak dengan kedua orang tuaku. Sedangkan nenek itu mengalami shock dan luka ringan akibat terserepet mobil kami. Setelah itu aku tak ingin melihat seseorang nenek yang menyebrang sembarangan tanpa pengawasan orang dewasa.
“selamat sore nek, nenek mau kemana?” tanyaku ketika mekihat nenek tua itu membawa tas besar. Sang nenek tidak menjawab ia hanya menengadahkan kepalanya menghadap kelangit.
“akhir-akhir ini sering hujan ya nek, “ tuturku. Nenek itu, masih diam tak merenspon.
“nek, apakah nenek mendengarku?” tanyaku ketiga kalinya memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan nenek itu.
“iya, aku mendengarmu. Walaupun aku masih tua tetapi pendengaranku masih tajam” jawab nenek itu masih menghadap langit.
“lalu, nenek mau kemana? Dari mana?” tanyaku.
“nenek mau mau kemasjid sholat, nenek dari bogor dan ingin ke  bandung berkunjung kerumah cucu nenek.”
“bisa saya bantu?” nenek itu hanya mengangguk.
Setelah aku bantu nenek menyebrang dengan hati-hati. Aku mengantarkan nenek itu ke masjid terdekat.
Nenek itu masuk ke masjid untuk perempuan. Kebetulan juga, masjid itu sedang sepi jadi ia dapat beribadah dengan tenang. Aku membiarkan perempuan baya itu beribadah.
Satu jam kemudian, nenek itu tidak kunjung keluar. Aku mencari ke dalam masjid tetapi tak kusangka. Aku mendapati nenek itu tertidur tetapi, ada yang aneh dengan tidurnya. Nenek itu ia tertidur dengan posisi terngadah, tak kusangga nenek itu telah kembali ke rahmat Allah.
Dengan segera aku menghubungi keluarga sang almarhumah. Keluarga almarhumah pun segera datang dan berterima kasih kepadaku. Mereka bercerita bahwa nenek tersebut telah sering kali hilang ke bogor bandung. Dan ia berkunjung kecucunya untuk berziarah kecucunya yang kebetulan telah lama hilang. Aku begitu terhar mendengarnya. Lalu, sang keluarga pun mengadopsi kami kini kami, tidak lagi tinggal di rumah yang tiap hari basah kena hujan. Tetapi, kini kami tinggal bahagia diruamah yang hangat dan aku sudah tidak lagi menjadi tukang parkir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Permainan Edukasi Puzzle dalam Pembelajaran PAI

Yuk Tanam Lidah Buaya