CERPEN : OTAK TEMPUR-A
Otak Tempur-a
Karya : Pradnya Kasih Nuraini
Seperti
biasanya sore itu aku dalam kemudi motor merasa lapar. Berjalan serambi
memikirkan menu makanan apa yang cocok dengan mood mulut dan perutku saat itu.
Banyak kios – kios makanan di pinggir jalan memanggil – manggil tapi hatiku
enggan mengampirinya. Kuteruskan motorku hingga sampai gang depan rumah.
Sesampainya disana disambut dengan kios makanan ringan menu sosis tempura.
Hatiku teriak tak karuan seakan mengajakku untuk mampir membelinya seporsi atau
dua porsi saja. Namun sayang otak pintarku ini memberikanku asumsi, ia seakan
berkata “Hei! Ingat cita – cita lu, sarjana gizi, ahli gizi. Inget udah berapa
banyak uang yang udah lu keluarin sendiri buat ngedapetin materi gizi! Semua
itu mau lu buang sia – sia karena jajanan pinggir jalan. Gila lu kalau iya.”
Argh... benar – benar memang si otak ini selalu mampu
mengalahkanku. Dalam tubuh ini memang benar otakku lebih banyak bekerja. Ia
lebih banyak pengaruhnya dalam hidup
dibandingkan organ lainnya. Tak heran jika aku menjadi sosok yang keras
kepala. Badak memang.
Cerita singkat, aku memang bukanlah mahasiswa ahli gizi.
Pendidika yang kutempuh saat ini pendidikan agama islam beda jauh dengan ahli
gizi. Merambah materi gizi pun juga tidak. Walaupun aku bukan mahasiswa ahli
gizi, aku punya cita – cita bisa kuliah ahli gizi dapat gelar S.GZ karena miris juga tiap aku lihat
anak gizi buruk, busung lapar, dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan
gizi. Banyak pula aku menemukan pasien yang mayoritas kesalahan pada amunisi
mereka.
Pfft!!! kembali dengan amunisi ku. Mari kita lupakan
saja, buang saja selera makan sosis tempura ini. Pencapaian selama ini tak
sebanding dengan makan sosis tempura. Kelanjutkan laju motorku sampai rumah
dengan harapan ada seonggok makanan atas meja yang cocok dengan mood mulut dan
perutku. Tak ayal sampai tiga menit roda motorku sudah sampai dirumah. Tak jauh
dari kios tadi memang. Setelah turun dari motor, mecuci tangan dan kaki melepas
penat, kubuka tudung nasi, sesuai setengah harapan kumenemukan seonggok makanan,
oseng tempe. Mulut dan perutku menolak. Bedebah setan! Memang sosis tempura itu
lebih menggoda. Baiklah apa yang sekarang bisa kulakukan tuk melupakan sosis
tempura itu? Menyebalkan. Kuambil novel Interahance
kulanjutkan membaca kemarin malam. Walaupun aku yakin part penyerangan naga tak
sebanding dengan hasrat panggilan sosis tempura. Sudahlah biarkan saja,
melupakan hal yang mustahil tuk meraih dan mengalihkannya. Jalani saja seperti
biasa sebelum ia sosis tempura ada. Pfftt....
Hari ku kian berjalan, namun tempura kios depan kian
bergulir. Tiap hari ada saja, entahlah para bocil yang membeli kemudian lewat
depan rumahku, bocil bermain kejar – kejaran depan rumah berbekal tempura
bahkan adikku yang setengah kakakku pun juga ikut membelinya. Bedebah hingga
entah berapa kali.
Berjalan bersama dengan upgrading diri lolos administrasi
pemilihan dimas diajeng daerah dan penobatan pengurus unit kegiatan mahasiswa,
rank tertinggi tes TOEFL dan IELTS, penyiapan passport ke luar negeri dengan
pemberangkatan setelah lulus kuliah dan masih banyak lagi. Sungguh aku sangat
berterimakasih dengan hal – hal itu yang menyelamatkanku dari godaan tempura.
Tiga bulan berjalan, hingga aku menemukan hal yang
membuatku tertegun bertafakur mengerti maksud dunia. Sore itu aku sedang
berleha – leha membayangkan juta impian, datang pembeli ke warungku.
“Permisi, beli.” Ujarnya sampai dua kali tak ada yang
menjawab, haruskah aku? Dimana anggota rumah ini? Tengah berjalan ke warung,
ibuku mendahului lebih sampai. Tak apa, aku juga ingin membeli cemilan saat
itu, sampai di warung kutengok pelanggan setia, cak Dadar dan bulek
Mawarternyata dan kalian tahu apa yang dibawa? Sosis tempura. Terimakasih telah
memutar kembali ingatanku.
“Kamu nggak mau, A?” tawar bulek mawar.
“Mboten bulek” Jawabku dalam logat jawa.
Terimakasih telah mengembalikan memori ingatanku. Sekejap
sisa tafakurku menyabet sosis, semua yang terjadi mengajarkan tak semua hal
terpenuhi bahkan entah sampai kapanpun. Otak memang organ yang hebat, apalagi
untuk urusan tempura. Tak perlu melupakannya, otak tak mau. Cukup ikuti saja
alur sehatnya. Otak bertempur untuk diri. Otak tempur-a
Komentar